Cara Hentikan Ngempeng Anak Bag2

Dekat dengan bunyi dari detak jantung ibunya yang selalu dia dengarnya saat dia masih berada di dalam kandungan. Nah, detak jantung ini membuatnya nyaman,” tulis Howard. Setelah anak berhenti menyusu dari ibunya, rasa nyaman itu akhirnya digantikannya dengan cara mengisap. Entah mengisap jempol, dot kosong, ujung selimut atau bantalnya. Selain itu, ngempeng juga bermula dari kebiasaan memasukkan semua benda ke dalam mulut pada waktu bayi masih berusia 7 atau 8 bulan.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Sekali lagi, ngempeng, menurut Howard, masih dapat dikatakan hal wajar selama anak masih berusia di bawah 1 tahun. Karena seusia ini ia memang masih menyusu botol atau ASI. Kalaupun di siang hari ia sudah mulai dilatih minum susu dari gelas, tapi malam hari tetap saja harus menyusu dari botol. Kendati wajar, Howard mengingatkan, tak ada salahnya bila orangtua berhati-hati, jangan sampai kebiasaan itu berlanjut hingga si anak besar nanti. Soalnya tak jarang ada orangtua yang mendorong kebiasaan ini.

Misalnya, supaya anaknya tidak menangis, maka mulutnya dijejali dengan dot kosong atau empeng. Lama-lama ini akan jadi kebiasaan. Karena itu Howard menganjurkan, sebaiknya ngempeng sudah benarbenar dihentikan kala si kecil menginjak usia 2 tahun. Pada umur ini, anak seharusnya sudah mengawali bermain di luar lingkungan rumah. Nah, jika ia masih terus ngempeng, maka perilakunya ini bisa mengganggu perkembangan sosialnya. Ia diejek oleh teman, umpamanya. Melepas empeng juga menghindari si kecil Mama dari risiko terkena infeksi telinga.

Satu studi menunjukkan anak-anak yang menggunakan empeng, peluangnya terkena infeksi telinga bagian tengah 33% lebih besar daripada yang tidak menggunakan empeng. Si batita juga bisa berpotensi terhambat dalam hal wicara dan bahasanya gara-gara empeng. “Alasannya, saat mengemut empeng, mulut anak bisa terkunci dalam posisi yang tidak alami, sehingga membuatnya lebih sulit untuk mengembangkan otot lidah dan bibirnya dengan cara normal,” ujar Patricia McAller Hamaguchi, ahli patologi wicara dan penulis buku Childhood, Speech, Language, and Listening Problems: What Every Parent Should Know (Willey Press, London, 2005).

Sumber : https://eduvita.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *