Katanya, Induksi Bisa Picu Autisme Bag2

“Induksi persalinan merupakan strategi penting untuk meminimalkan risiko bagi ibu dan bayi dalam beberapa situasi,” kata Erin AS Clark, MD, penulis utama penelitian di University of Utah. huuffhhh… leganya, ya, Ma! Tak dimungkiri, pembahasan tentang autisme memang telah lama bergejolak di Amerika. Pasalnya, satu di antara 68 anak di sana mengalami gangguan autisme, sehingga cukup banyak peneliti yang mencoba mencari faktor-faktor yang memiliki kaitan dengan kondisi tersebut.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Jadi, amankah proses induksi? SESUAI INDIKASI Seperti sudah dijelaskan di atas, induksi merupakan sebuah proses untuk merangsang kontraksi rahim dengan tujuan mempercepat proses kelahiran. Hal ini berarti, tak semua proses kelahiran membutuhkan induksi, kecuali bila Mama dan/atau buah hati berisiko mengalami komplikasi kesehatan jika bayi tak dilahirkan segera. Salah satu kasus paling umum yang biasanya memerlukan induksi ialah saat Mama belum juga merasakan kontraksi atau tanda-tanda persalinan, padahal usia kandungan sudah melewati HPL (hari perkiraan lahir) atau telah memasuki usia 41-42 minggu.

Di usia tersebut, kualitas plasenta sudah sangat menurun, jumlah air ketuban juga semakin sedikit, sehingga bila bayi tak dilahirkan segera, ditakutkan akan mengurangi kesejahteraan bayi. Induksi juga dilakukan apabila ke tuban sudah pecah. Bila tak ada infeksi, bayi harus dilahirkan dalam waktu 12 jam atau 24 jam pascaketuban pecah. Pasalnya, air ketuban yang pecah menandakan bayi sudah kehilangan “rumah” yang menjaganya dari berbagai macam bahaya, sehingga membuatnya terhubung langsung dengan dunia luar yang penuh bakteri, kuman, ataupun virus. Kondisi ini membuat bayi berisiko tinggi terkena infeksi atau komplikasi kesehatan lain bila tak segera dilahirkan.

Indikasi lainnya yang mengharuskan mamil mendapatkan induksi, yaitu: mamil mengalami penyakit preeklamsia, diabetes, lepasnya plasenta dari dinding rahim, serta kondisi lainnya yang membuat bayi perlu dilahirkan segera. Nah, sudah jelas, ya, Ma… bila dilakukan sesuai indikasi, maka proses induksi terbilang aman. BERAKHIR DENGAN SESAR? “Tapi… kabarnya, kalau dilakukan induksi, ujungujungnya akan disesar juga?” Walah! Kata siapa itu? Enggak selalu berakhir dengan sesar, kok!

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *