Mama Ada Petir

Hujan yang turun, kadang-kadang disertai oleh kilat dan petir yang menyambar dengan keras. Bunyinya sangat menggelegar sehingga anak-anak sering kali ketakutan. Bagaimana mengatasinya agar si kecil tidak trauma terhadap bunyi petir?

Baca juga : Kerja di Jerman

DUAAAR! Gemuruh suara petir membuat Cakra, 5 tahun, terkejut. Ia langsung menangis dan berlari ke pelukan ibunya. “Ma, Cakra takut petir.” “Cup cup cup. Iya, Mama tahu. Sini Mama peluk,” kata Mama sambil memeluk Cakra. Sore itu memang sedang hujan deras, beberapa kali tampak kilat dari balik jendela, berlanjut dengan suara petir yang menggelegar. Cakra masih nyaman dalam pelukan ibunya, sampai suara hujan terdengar reda, tidak sederas tadi.

“Hujannya sudah selesai, Ma?” tanya Cakra. “Sepertinya sudah. Cakra main lagi?” Kali ini 24 Cakra mengangguk. Ia mengusap air matanya dan kembali bermain seperti biasa. Giliran Mama yang khawatir dengan ketakutan Cakra terhadap petir. Memang sih itu sesuatu yang normal, tidak usah anak-anak, orang dewasa saja kadang takut petir. Namun, Mama tidak ingin Cakra terus menerus takut pada petir. Pertanyaannya, apakah seiring ia tumbuh besar, rasa takut terhadap petir itu akan berkurang?

DAMPAK PERKEMBANGAN KOGNITIF Psikolog Agnes Dewanti Purnomowardani menuturkan, takut petir sebenarnya bagian normal dari perkembangan emosional dan perilaku anak prasekolah. Di usia batita, anak-anak belum memikirkan sebab akibat dari suatu peristiwa. Akan tetapi, di usia prasekolah, sejalan dengan perkembangan kognitifnya, anak mulai dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi, apakah hal itu baik atau buruk, apakah sesuatu menakutkan dirinya atau tidak, dan sebagainya. Apalagi suara petir yang keras dan tiba-tiba. “Bagi banyak orang, suara keras bukanlah sesuatu yang menyenangkan, apalagi untuk anak,” jelas perempuan yang akrab dipanggi Nessi ini.

Ketidaktahuan akan waktu kemunculan petir, juga menambah ketakutan anak. Apalagi jika anak tengah asyik bermain, suara menggelegar bisa membuat ia terkejut. Sebab lain, terkait sikap orangtua atau orang yang dekat dengan anak dalam menyikapi munculnya petir. Mama, umpama, setiap hujan deras selalu buru-buru menutup tirai dengan raut wajah cemas. Ketika ada petir, Mama sangat terkejut dan menjerit sambil menutup telinga. Melihat respons seperti itu, anak akan ikut merasa cemas, tidak nyaman, dan takut pada petir. Memang, rasa terkejut itu biasanya terkait dengan ketidaksiapan. Sama seperti petir, saat kita tidak mengantisipasi, kita akan mudah terkejut begitu mendengar gemuruh suaranya. Namun, ketakutan berlebihan justru menyulitkan kita untuk mengajari si kecil bagaimana mengatasi rasa takut pada petir tersebut.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *