Tuduhan Maut Kenalan Baru

SAUT Edward Rajagukguk mencoba keluar dari dilema dalam membela terpidana mati Zulfqar Ali. ”Kami me nyiapkan surat untuk Jaksa Agung agar meninjau kembali kasus ini,” kata Saut, Selasa pekan lalu. Sebelumnya, Saut dan keluarga Zulfqar terus bergulat dalam perdebatan apakah perlu memohon grasi (ampunan) kepada presiden atau tidak. Bila mengajukan permohonan grasi, Zulfqar artinya mengaku bersalah.

Padahal, menurut Saut, warga negara Pakistan itu tak merasa terlibat sindikat narkotik internasional seperti dituduhkan penegak hukum Indonesia. Sebaliknya, bila tak mengajukan permohonan grasi, Zulfqar sama dengan menghitung hari menunggu eksekusi mati. Tentu saja, baik Zulfqar maupun keluarganya tak mau menerima hukuman paling berat tersebut.

Keajaiban Bermain Origami Bag2

Merujuk pada hal itu, origami membuktikan diri sebagai aktivitas perkembangan yang tepat 24 untuk diperkenalkan kepada anak. Beberapa origami membutuhkan sedikit lipatan sederhana, sementara bentuk lainnya membutuhkan instruksi lebih detail dan lipatan yang lebih banyak pula.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Origami menawarkan banyak tantangan untuk semua kalangan usia. Saat mempraktikkan origami, kemampuan anak meningkat dengan sendirinya. Begitu ia berhasil menyelesaikan bentuk origami sederhana, anak berlatih terus menguasai keterampilan tersebut dan terdorong untuk mengembangkan keterampilan baru. Dari sudut pandang guru, origami menjadi aktivitas yang tepat untuk mendorong perkembangan anak. Ainissa Ramirez, dalam “5 Reasons Why Origami Improves Toddler’s Skills” di Edutopia, menuturkan ada beberapa materi pelajaran yang bisa diajarkan pada anak melalui origami.

Berikut contohnya. Geometri. Origami bisa memperkuat pemahaman anak tentang konsep, formula, dan label geometri. Lewat origami, anak bisa mengenal istilah panjang, lebar, dan tinggi. Dari sini, anak akan belajar istilah tersebut dan bisa mendeskripsikan bentuk tertentu. Keterampilan berpikir. Origami mendorong tidak hanya keterampilan visual spasial anak, tetapi juga bagaimana mengoordinasikan gerak mata dan tangan, berikut bagaimana mendengarkan arahan sambil melakukan instruksi tersebut.

Pembagian. Melipat kertas menjadi 2 bagian, 4 bagian, dan seterusnya, membantu anak memperagakan bagaimana proses pembagian itu terjadi. Peragaan melipat kertas menjadi dua, lalu dilipat lagi menjadi dua, dan seterusnya, bisa menjadi cara memeragakan konsep tidak terbatas. Keterampilan memecahkan masalah. Origami mengajari anak bahwa ada banyak cara menyelesaikan sebuah permasalahan, dan cara atau pendekatannya tidak selalu sama. Selain itu, membuat origami juga memberi anak berkesempatan untuk bersahabat dengan kegagalan.

Kadang lipatan tak selalu tepat, atau melewati instruksi, tetapi kita selalu bisa mencoba lagi. MULAI YANG SEDERHANA Maria Herlina Limyati, M. Si, Psikolog menuturkan, origami memang bermanfaat untuk melatih motorik halus, konsentrasi, mendengarkan instruksi, dan bisa mendekatkan anak dengan orangtuanya. “Membuat origami pun tidak perlu yang susahsusah, dimulai dari yang paling sederhana saja,” kata Maria. Aktivitas lipat melipat kertas ini mau tak mau dilakukan bersama, sehingga kita bisa berkomunikasi langsung dengan anak.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Merayakan Jazz Hingga Lereng Gunung

Dalam lima tahun belakangan, perhelatan jazz semarak digelar di sejumlah daerah di indonesia. Lokasi konser sebagian besar di alam terbuka, seperti di pelataran candi dan museum, di kampung, serta lereng gunung. Macam-macam konsep yang mereka usung dalam menyuguhkan musik jazz. Namun satu yang menyamakan geliat festival-festival itu: merayakan jazz sebagai sebuah kegembiraan.

Dari atas pentas di pelataran amfteater terbuka Jiwa Jawa Resort di kaki Gunung Ijen, suara angklung paglak mengalun lirih. Tempo alunan instrumen musik tradisional itu kemudian kian cepat dan mengentak, disusul lantunan rebana dan kendang Banyuwangi. Denting piano dan petikan bas masuk menimpali. Paduan musik tradisional yang dimainkan kelompok Pathok Laraswangi, Banyuwangi, dengan grup musik etnik bernuansa jazz dari Yogyakarta, Kua Etnika, itu membawakan tembang kuno suku Osing bertajuk Nggiring Angin.

“Berteman” Dengan Tangga

Begitu melihat ada tangga, si kecil pasti minta naik atau turun tangga. Bahaya enggak, sih? “Naik…,” pinta Athara dengan nada cadel sambil menarik- narik baju bundanya. “Oh, mau ikut Om Aryo, ya?” tanya bundanya sambil menggandeng Athara mendaki anak tangga satu demi satu. Baru juga kakinya menginjak anak tangga teratas, Athara segera balik badan dan menunjuk-nunjuk ke bawah.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

“Turun lagi? Enggak jadi lihat Om Aryo?” tanya bundanya pasrah. Naik dan turun tangga rasanya seperti tanpa tujuan apa pun. Benarbenar hanya ingin naik dan turun tangga saja. Padahal Mama atau Papa yang menuntunnya mungkin sudah mengalami sakit pinggang karena perlu membungkuk untuk menyesuaikan dengan tinggi badan si kecil. Waduh! BAGIAN EKSPLORASI LINGKUNGAN Seperti juga merangkak, merambat, dan berdiri, menurut psikolog Alfa Restu Mardhika, naik tangga adalah salah satu tahapan perkembangan batita. “Setelah anak mampu berdiri biasanya sekitar usia 13 bulan, batita mulai suka memanjat sesuatu (climbing). Pada fase ini biasanya diwujudkan pada salah satu aktivitas yaitu naik-turun tangga,” ujarnya.

Pada dasarnya, keinginan batita untuk naik dan turun tangga terkait dengan eksplorasinya terhadap lingkungan sekitar. Dengan naik dan turun tangga, daya jelajah batita akan semakin jauh, tak terbatas pada apa yang saat ini telah diketahuinya. Keinginan untuk mengeksplorasi ini juga terkait dengan kemampuan motoriknya yang semakin berkembang. Kalau dulu menjangkau meja pendek saja sudah merupakan upaya keras bagi si batita, kini ia telah semakin mampu mengelola dan mengoordinasikan alat geraknya. Para ahli juga meyakini, kegiatan naik dan turun tangga ini bermanfaat melatih kemampuan motorik kasar, terutama gerakan otot besar di bagian kaki.

Selain itu, menurut Alfa, “Kegiatan ini juga melatih kemampuan konsentrasi saat si anak berusaha tidak terjatuh saat naik atau turun tangga.” Misal, ketika si batita berusaha menggapai anak tangga berikutnya, ia akan memerlukan koordinasi antara indra penglihatan dengan koordinasi tangan dan kaki. Ini akan membuat koordinasi pancaindranya semakin matang. Perihal naik turun tangga, bagi batita yang belum mampu mengelola gerakannya dengan baik, risiko jatuh dan terluka sangat besar.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Satu Ismail, Lima Disertasi Bag7

Pengacara Nur Alam, Ahmad Rifai, mengaku tak tahu urusan kuliah kliennya. ”Kami belum mengetahui hal itu,” ujar Rifai. Rektor UNJ Djaali menolak tudingan ada plagiarisme disertasi di kampusnya. Untuk mengempang tudingan plagiat dan abalabalnya program kerja sama temuan Tim Evaluasi Kinerja Akademik, ia membentuk Tim Counterpart, yang dipimpin Wakil Rektor UNJ Muchlis Rantoni Luddin.

Mereka juga mengklaim menggunakan Turnitin untuk mendeteksi plagiarisme kelima disertasi itu. ”Hasil kesimpulan tim ini, plagiarisme itu tidak ada,” kata Djaali saat ditemui pada Kamis tiga pekan lalu. Djaali adalah promotor untuk kelima kandidat doktor yang dituding melakukan plagiat itu. Total pada 2012-2016, Djaali menjadi promotor bagi 327 kandidat doktor.

Cara Merangsang Anak Berjalan Sendiri

? Rambatan Ini adalah istilah yang menggambarkan proses berjalan sendiri dengan berpegangan pada suatu tumpuan, misalnya tembok atau perlengkapan rumah tangga seperti meja/ lemari. Agar anak tertarik untuk merambat, rangsang dengan mengeluarkan suara menarik, seperti nyanyian, memanggil nama anak, atau suara binatang. Bisa juga dengan meletakkan mainan favoritnya dalam jarak tertentu, tetapi jangan terlalu jauh, agar anak mau berusaha berjalan untuk meraihnya. Cara ini akan menguatkan otot-otot kaki dan tungkai anak. Pastikan tidak ada barang-barang berbahaya di sekeliling anak dan beri pujian atas usaha anak untuk berjalan tanpa dibantu.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

? Gerakan mendorong. Berikan stimulasi dengan merangsang anak untuk mendorong, bisa mendorong apa saja, entah itu kursi plastik ataupun mainan yang bisa didorong. Tentu saja cara ini membutuhkan pengawasan ekstra dari Mama Papa. ? Berpegangan pada boks bayi. Anak bisa berdiri di salah satu sudut boksnya yang diberi pelin dung (bumper) di sekililing bagian dalam boks, lalu arahkan ia untuk berpegangan pada pagar boks. Biarkan anak berjalan menyusuri boks. Cara ini cukup aman karena bila anak jatuh, ada kasur yang dapat melindunginya dari benturan keras.

? Menatih. Mama bisa membantu anak melangkahkan kaki dengan memegangi ketiaknya. Hindari menggenggam tangan anak di telapak tangan atau pergelangan tangan karena gerakan anak dapat membuat lengan atau tangan terpuntir. Kegiatan ini mungkin akan melelahkan, tapi kuatkan diri untuk melakukannya. Hentikan latihan berjalan sendiri ketika anak sudah menolak melakukannya. Bisa jadi karena dia sudah kelelahan.

? Tanpa alas kaki. Biarkan anak belajar berjalan sendiri tanpa memakai alas kaki, seperti kaus kaki atau sepatu. Hal ini membuatnya lebih mudah mencengkeram permukaan alas ruang atau tanah ketimbang saat ia mengenakan alas kaki, sehingga dapat membantunya mencari keseimbangan. Selain itu, indra peraba di kaki anak akan terstimulasi. Agar telapak kaki anak tetap aman, hindari permukaan yang berbatu atau kasar dan tajam.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Menghubungkan Indonesia, Membangun Perekonomian Daerah Bag3

“Di daerah-daerah perbatasan, dibangun jaringan jalan sehingga mulai muncul pusat-pusat pertumbuhan baru. Daerah-daerah yang sebelumnya hanya dijangkau dengan pelayaran, sekarang sudah ada bandara,” katanya. Misalnya, Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, di Laut Natuna Utara yang berbatasan dengan Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Sebelum ada bandara, daerah ini hanya bisa diakses menggunakan kapal laut selama 7-25 jam dari pelabuhan di Batam dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Namun, sejak dibangun Bandara Letung pada November 2016, waktu tempuh menjadi kurang dari satu jam. “Kalau (pariwisata) daerah ini dikelola dengan bagus, orang akan datang ke sana dan perekonomian akan tumbuh,” ucapnya. Apalagi, kata Djoko, Anambas punya potensi pariwisata sangat bagus ditambah biaya hidup (sewa hotel dan makanan) yang masih relatif murah.

Cara Hentikan Ngempeng Anak Bag2

Dekat dengan bunyi dari detak jantung ibunya yang selalu dia dengarnya saat dia masih berada di dalam kandungan. Nah, detak jantung ini membuatnya nyaman,” tulis Howard. Setelah anak berhenti menyusu dari ibunya, rasa nyaman itu akhirnya digantikannya dengan cara mengisap. Entah mengisap jempol, dot kosong, ujung selimut atau bantalnya. Selain itu, ngempeng juga bermula dari kebiasaan memasukkan semua benda ke dalam mulut pada waktu bayi masih berusia 7 atau 8 bulan.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Sekali lagi, ngempeng, menurut Howard, masih dapat dikatakan hal wajar selama anak masih berusia di bawah 1 tahun. Karena seusia ini ia memang masih menyusu botol atau ASI. Kalaupun di siang hari ia sudah mulai dilatih minum susu dari gelas, tapi malam hari tetap saja harus menyusu dari botol. Kendati wajar, Howard mengingatkan, tak ada salahnya bila orangtua berhati-hati, jangan sampai kebiasaan itu berlanjut hingga si anak besar nanti. Soalnya tak jarang ada orangtua yang mendorong kebiasaan ini.

Misalnya, supaya anaknya tidak menangis, maka mulutnya dijejali dengan dot kosong atau empeng. Lama-lama ini akan jadi kebiasaan. Karena itu Howard menganjurkan, sebaiknya ngempeng sudah benarbenar dihentikan kala si kecil menginjak usia 2 tahun. Pada umur ini, anak seharusnya sudah mengawali bermain di luar lingkungan rumah. Nah, jika ia masih terus ngempeng, maka perilakunya ini bisa mengganggu perkembangan sosialnya. Ia diejek oleh teman, umpamanya. Melepas empeng juga menghindari si kecil Mama dari risiko terkena infeksi telinga.

Satu studi menunjukkan anak-anak yang menggunakan empeng, peluangnya terkena infeksi telinga bagian tengah 33% lebih besar daripada yang tidak menggunakan empeng. Si batita juga bisa berpotensi terhambat dalam hal wicara dan bahasanya gara-gara empeng. “Alasannya, saat mengemut empeng, mulut anak bisa terkunci dalam posisi yang tidak alami, sehingga membuatnya lebih sulit untuk mengembangkan otot lidah dan bibirnya dengan cara normal,” ujar Patricia McAller Hamaguchi, ahli patologi wicara dan penulis buku Childhood, Speech, Language, and Listening Problems: What Every Parent Should Know (Willey Press, London, 2005).

Sumber : https://eduvita.org/

Kerja Bersama Mewujudkan Konektivitas Indonesia Bag2

Konektivitas tercapai dengan adanya sarana transportasi yang memadai, baik melalui darat, laut, maupun udara. Dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan medan yang beragam, membangun sarana transportasi itu bukanlah pekerjaan mudah dan dana yang dibutuhkan cukup besar. Itu sebabnya, kata Budi, proyek-proyek transportasi tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) saja.

“APBN hanya bisa men-cover 30-40 persen saja, sisanya kerja sama dengan swasta, baik BUMN (badan usaha milik negara) maupun swasta nasional dan asing,” ujarnya. Ada beberapa model kerja sama yang ditawarkan pemerintah, salah satunya adalah Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Skema ini sebenarnya sudah sering diterapkan untuk jalan tol, pelabuhan, dan bandara, tapi untuk kereta api KPBU merupakan hal baru.

Katanya, Induksi Bisa Picu Autisme Bag2

“Induksi persalinan merupakan strategi penting untuk meminimalkan risiko bagi ibu dan bayi dalam beberapa situasi,” kata Erin AS Clark, MD, penulis utama penelitian di University of Utah. huuffhhh… leganya, ya, Ma! Tak dimungkiri, pembahasan tentang autisme memang telah lama bergejolak di Amerika. Pasalnya, satu di antara 68 anak di sana mengalami gangguan autisme, sehingga cukup banyak peneliti yang mencoba mencari faktor-faktor yang memiliki kaitan dengan kondisi tersebut.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Jadi, amankah proses induksi? SESUAI INDIKASI Seperti sudah dijelaskan di atas, induksi merupakan sebuah proses untuk merangsang kontraksi rahim dengan tujuan mempercepat proses kelahiran. Hal ini berarti, tak semua proses kelahiran membutuhkan induksi, kecuali bila Mama dan/atau buah hati berisiko mengalami komplikasi kesehatan jika bayi tak dilahirkan segera. Salah satu kasus paling umum yang biasanya memerlukan induksi ialah saat Mama belum juga merasakan kontraksi atau tanda-tanda persalinan, padahal usia kandungan sudah melewati HPL (hari perkiraan lahir) atau telah memasuki usia 41-42 minggu.

Di usia tersebut, kualitas plasenta sudah sangat menurun, jumlah air ketuban juga semakin sedikit, sehingga bila bayi tak dilahirkan segera, ditakutkan akan mengurangi kesejahteraan bayi. Induksi juga dilakukan apabila ke tuban sudah pecah. Bila tak ada infeksi, bayi harus dilahirkan dalam waktu 12 jam atau 24 jam pascaketuban pecah. Pasalnya, air ketuban yang pecah menandakan bayi sudah kehilangan “rumah” yang menjaganya dari berbagai macam bahaya, sehingga membuatnya terhubung langsung dengan dunia luar yang penuh bakteri, kuman, ataupun virus. Kondisi ini membuat bayi berisiko tinggi terkena infeksi atau komplikasi kesehatan lain bila tak segera dilahirkan.

Indikasi lainnya yang mengharuskan mamil mendapatkan induksi, yaitu: mamil mengalami penyakit preeklamsia, diabetes, lepasnya plasenta dari dinding rahim, serta kondisi lainnya yang membuat bayi perlu dilahirkan segera. Nah, sudah jelas, ya, Ma… bila dilakukan sesuai indikasi, maka proses induksi terbilang aman. BERAKHIR DENGAN SESAR? “Tapi… kabarnya, kalau dilakukan induksi, ujungujungnya akan disesar juga?” Walah! Kata siapa itu? Enggak selalu berakhir dengan sesar, kok!

Sumber : https://ausbildung.co.id/